Cara Memiliki Hunian Murah dengan Take Over KPR

Posted on

Terdapat berbagai alasan mengapa seseorang melakukan take over KPR. Salah satu alasan utamanya biasanya karena didorong oleh keinginan dalam memiliki hunian murah. Memiliki sebuah hunian tentunya merupakan harapan setiap orang. Akan tetapi, sangat disayangkan karena tidak semua orang dapat memiliki hunian yang diinginkannya.

Harga hunian yang sangat tinggi disinyalir menjadi salah satu penyebab terjadinya hal ini. Tidak mengherankan apabila beberapa orang memilih untuk memanfaatkan KPR yang ditawarkan oleh beberapa bank. Sayangnya, harga uang muka untuk mendapatkan cicilan rumah tersebut juga masih tinggi. Oleh karena itu, beberapa orang memilih untuk menggunakan sistem take over.

Berikut ini adalah tiga jenis KPR yang dilakukan dengan sistem take over beserta kelebihan dan kekurangan yang didapatkan dengan menggunakan sistem tersebut.

Jenis serta Kelebihan dan Kekurangannya Take Over KPR

Take over bawah tangan

Berbeda dengan take over KPR yang dilakukan oleh bank, proses take over bawah tangan sama sekali tidak melibatkan instansi keuangan tersebut. Proses transaksi kepemilikan sebuah rumah hanya dilakukan oleh pihak pembeli dengan pihak penjual saja. Meskipun sangat menguntungkan, take over model ini sangat tidak disarankan. Proses take over yang dilakukan dengan bank sebagai perantara, biasanya menggunakan sertifikat. Sertifikat yang dikeluarkan oleh bank ini memiliki kekuatan hukum. Akan tetapi, pada take over bawah tangan, sertifikat ini tidak ada karena bank tidak dilibatkan. Oleh karena itu, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka tidak ada pertanggungjawaban hukumnya yang jelas pula.

Sertifikat take over biasanya menyertakan sertifikat yang mencantumkan kejelasan nama pemilik rumah. Dalam take over KPR yang dilakukan di bawah tangan, sertifikat kepemilikan hunian ini tidak jelas milik siapa. Proses take over hanya dilakukan di depan notaris. Selanjutnya, pembeli harus melunasi biaya pembelian rumah dengan cara mencicil. Sampai di sini, proses take over belum mengalami masalah yang berarti. Masalah baru timbul ketika sertifikat dari pembelian rumah akan diambil. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, sertifikat ini hanya dirilis oleh bank yang memberikan fitur KPR saja. Dengan demikian, proses perpindahan cicilan hunian di bawah tangan, besar kemungkinan akan merugikan pihak pembeli.

Take over kredit kpr dalam penjualan rumah

Jenis kedua dari take over KPR adalah perpindahan cicilan dalam penjualan rumah. Proses take over ini sedikit lebih rumit dibandingkan proses sebelumnya. Secara ringkas, proses ini dapat diartikan bahwa Anda mencicil hunian dengan cara melanjutkan cicilan orang lain yang belum melunasi cicilannya. Dengan demikian, proses take over melibatkan tiga pihak. Yang menjadi pihak pertama tentunya adalah pihak bank selaku perilis KPR. Sedangkan pihak kedua adalah nasabah yang belum dapat melunasi cicilan huniannya. Kemudian, pihak terakhir adalah pihak pembeli yang ingin melanjutkan cicilan tersebut. Perbedaan lain dengan proses take over jenis sebelumnya adalah keterlibatan bank dalam prosesnya.

take over kpr dengan bunga rendah

Meskipun bank telah dilibatkan dalam proses take over KPR dalam penjualan rumah, Anda juga harus melakukan prosedur yang semestinya. Apabila Anda merupakan pihak ketiga, maka Anda juga harus melengkapi segala persyaratan administratif yang dikenakan kepada pihak kedua. Persyaratan ini pada umumnya berupa kelengkapan identitas dari pihak ketiga. Penghasilan tetap bulanan pihak ketiga biasanya merupakan persyaratan yang menjadi pertimbangan utama bank dalam memberikan ijin untuk melanjutkan proses ini. Pihak ketiga sangat disarankan untuk datang ke bank bersama dengan pihak kedua dalam proses pengajuan kredit. Setelah semua persyaratan dilengkapi dan bank menyetujui hal ini, maka pihak ketiga dapat melanjutkan cicilan yang tertunda sebelumnya. Proses cicilan dengan jumlah yang telah disepakati bersama dapat dibayarkan setelahnya.

Take over dari bank satu ke bank lain

Proses take over KPR juga dapat dilakukan dari bank satu ke bank lain. Hal ini sangat wajar terjadi karena beberapa hal. Alasan pertama biasanya berkaitan dengan pelayanan dari bank pertama yang tidak memuaskan. Beberapa bank sudah meningkatkan pelayanannya untuk menjamin agar nasabahnya tidak berpindah ke bank lain dalam proses KPR ini. Alasan kedua terjadinya proses take over ini adalah karena cicilan yang ditawarkan oleh bank pertama terasa memberatkan di kemudian hari. Dalam hal ini, bank tidak dapat begitu saja menurunkan suku bunga cicilan atau menekan biaya cicilan begitu saja. Tidak mengherankan, banyak orang yang melakukan jenis take over ini kendati bank sudah melakukan berbagai upaya dalam memberikan kenyamanan mencicil kepada nasabahnya.

Dari proses take over KPR tersebut, dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat tiga pihak yang dilibatkan. Bank pertama yang memberikan cicilan hunian menjadi pihak pertama. Nasabah yang menggunakan cicilan tersebut merupakan pihak kedua dalam proses cicilan hunian ini. Sedangkan yang menjadi pihak ketiga adalah pihak bank lain yang menjadi pilihan kedua nasabah untuk melakukan cicilan. Persyaratan yang diberikan oleh pihak ketiga biasanya merupakan persyaratan yang sama dengan persyaratan dari pihak pertama. Persyaratan ini biasanya mencakup identitas dari pihak kedua beserta dengan penghasilan rutin yang didapatkan setiap bulannya. Sebagai tambahan, pihak ketiga biasanya akan meminta sertifikat rumah yang dirilis oleh bank pertama dalam proses pengalihan cicilan ini.

Syarat take over

Persyaratan terakhir ini merupakan persyaratan yang paling krusial. Sertifikat rumah yang dijual hanya dapat dirilis oleh pihak pertama. Pihak pertama adalah pihak yang telah menyediakan KPR pada awalnya. Ketika proses take over KPR dilakukan, maka sertifikat ini akan berpindah kepada pihak ketiga. Proses cicilah hunian baru akan dapat dilaksanakan apabila persyaratan ini sudah dilengkapi. Bank yang menjadi pilihan nasabah dalam melakukan cicilan selaku pihak ketiga tidak dapat melanjutkan proses KPR apabila sertifikat tersebut belum dimilikinya. Pihak ketiga tentunya akan melakukan proses konversi terhadap cicilan yang dilakukan kepada pihak pertama. Hasil dari perhitungan ini akan menunjukkan berapa besaran cicilan yang harus dilakukan oleh pihak kedua selaku pembeli.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, setiap proses take over KPR memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Proses take over yang menggunakan sistem di bawah tangan sangat tidak disarankan karena proses ini tidak melibatkan bank sebagai instansi yang merilis sertifikat rumah. Sedangkan proses take over yang dilakukan dari bank satu kepada bank lain merupakan jenis take over yang lebih disarankan. Proses ini tidak hanya lebih aman, namun juga melibatkan perhitungan yang akurat. Dengan demikian, kejadian yang tidak diinginkan selama proses cicilan berlangsung dapat ditekan sekecil mungkin.

Data take over kpr bunga rendah dan murah

Sebagai informasi tambahan, berikut penulis tampilkan Suku Bunga Dasar Kredit KPR yang diperoleh dari dwebsite bank indonesia dengan data posisi akhir pada november 2016. Untuk informasi lebih uptodate dan jelas alangkah lebih baiknya anda menanyakan langsung ke customer service bank yang diinginkan.

  • BANK MEGA Bunga KPR 13.50%
  • BANK SULSELBAR Bunga KPR 9.63%
  • BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL Bunga KPR 11.27%
  • BANK PERMATA Bunga KPR 11.25%
  • BANK SULTENG Bunga KPR 11.44%
  • STANDARD CHARTERED BANK Bunga KPR 10.60%
  • BANK NAGARI Bunga KPR 10.75%
  • PRIMA MASTER BANK Bunga KPR 14.29%
  • BNI BANK NEGARA INDONESIA Bunga KPR 10.50%
  • BANK EKONOMI RAHARJA Bunga KPR 12.00%
  • CHINATRUST BANK CTBC INDONESIA Bunga KPR 9.77%
  • BANK KALSEL Bunga KPR 13.64%
  • BANK MAYORA Bunga KPR 12.33%
  • BANK HARDA INTERNASIONAL Bunga KPR 12.91%
  • ANGLOMAS INTERNASIONAL BANK Bunga KPR 12.50%
  • BANK INDEX SELINDO Bunga KPR 11.64%
  • BANK MITRANIAGA Bunga KPR 12.57%
  • BANK UOB INDONESIA Bunga KPR 11.25%
  • BANK OF INDIA INDONESIA Bunga KPR 12.35%
  • BANK INTERNASIONAL INDONESIA Bunga KPR 9.75%
  • BANK KALTIM Bunga KPR 11.71%
  • BANK PAPUA Bunga KPR 11.61%
  • BANK DANAMON INDONESIA Bunga KPR 10.50%
  • BANK NATIONALNOBU Bunga KPR 10.00%
  • BANK COMMONWEALTH Bunga KPR 12.50%
  • BANK MALUKU Bunga KPR 14.21%
  • BANK CAPITAL INDONESIA Bunga KPR 13.48%
  • BANK AGRIS Bunga KPR 10.15%
  • BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL Bunga KPR 13.45%
  • BANK ARTOS INDONESIA Bunga KPR 15.57%
  • BANK KALTENG Bunga KPR 10.03%
  • BANK OCBC NISP Bunga KPR 12.50%
  • BANK BISNIS INTERNASIONAL Bunga KPR 9.92%
  • BPD BALI Bunga KPR 10.68%
  • BANK INA PERDANA Bunga KPR 13.52%
  • BANK JATENG Bunga KPR 7.55%
  • BANK RIAU KEPRI Bunga KPR 13.63%
  • BJB BANK JABAR BANTEN Bunga KPR 10.49%
  • PAN INDONESIA BANK Bunga KPR 11.50%
  • BANK JTRUST INDONESIA Bunga KPR 12.50%
  • BANK MESTIKA DHARMA Bunga KPR 12.78%
  • BANK JAMBI Bunga KPR 9.24%
  • BCA BANK CENTRAL ASIA Bunga KPR 10.00%
  • BANK JASA JAKARTA Bunga KPR 10.07%
  • BTN BANK TABUNGAN NEGARA Bunga KPR 10.25%
  • CENTRATAMA NASIONAL BANK Bunga KPR 13.33%
  • BPD NTT Bunga KPR 10.55%
  • BANK SUMUT Bunga KPR 11.59%
  • BANK DKI Bunga KPR 11.00%
  • BANK JATIM Bunga KPR 8.18%
  • BANK YUDHA BHAKTI%
  • BANK METRO EXPRESS Bunga KPR 13.63%
  • BANK BUMI ARTA Bunga KPR 10.78%
  • BANK KALBAR Bunga KPR 10.83%
  • BANK ICB BUMIPUTERA Bunga KPR 12.87%
  • BANK DINAR INDONESIA Bunga KPR 11.19%
  • BANK ROYAL INDONESIA Bunga KPR 11.52%
  • BANK DBS INDONESIA Bunga KPR 9.97%
  • BANK HANA Bunga KPR  9.50%
  • BANK VICTORIA INTERNATIONAL Bunga KPR 12.25%
  • BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906 Bunga KPR 13.35%
  • BANK SUMSEL BABEL Bunga KPR 12.25%
  • BANK SULTRA Bunga KPR 7.22%
  • BANK NTB Bunga KPR 10.15%
  • BANK MULTIARTA SENTOSA Bunga KPR 12.00%
  • BANK CIMB NIAGA Bunga KPR 10.01%
  • BANK BPD DIY Bunga KPR 7.34%
  • BANK SULUT Bunga KPR 10.00%
  • BANK BUKOPIN Bunga KPR 12.02%
  • BANK MASPION INDONESIA Bunga KPR 11.29%
  • BANK ICBC INDONESIA Bunga KPR 9.25%
  • ANZ PANIN BANK Bunga KPR 11.40%
  • BANK RABOBANK INTERNATIONAL INDONESIA Bunga KPR 13.00%
  • BANK MAYAPADA INTERNATIONAL Bunga KPR 11.45%
  • BANK KESAWAN Bunga KPR 13.50%
  • BANK BENGKULU Bunga KPR 8.70%
  • BANK FAMA INTERNASIONAL Bunga KPR 11.99%
  • BANK MANDIRI Bunga KPR 10.25%
  • BANK NUSANTARA PARAHYANGAN Bunga KPR 9.13%
  • BRI BANK RAKYAT INDONESIA Bunga KPR 10.25%
  • HSBC THE HONGKONG AND SHANGHAI BANKING CORP Bunga KPR 10.00%
  • BANK GANESHA Bunga KPR 12.50%
Take Over KPR ke Bank Syariah

Bila anda ingin menggunakan KPR Bank Syariah, penulis berikan daftar rekomendasi Bank Syariah di Indonesia. Anda dapat langsung membandingkannya di kantor masing-masing bank.

  1. Bank Panin Syariah
  2. Bank Syariah Mega Indonesia
  3. BCA Syariah
  4. Bank Jabar dan Banten
  5. Bank Syariah Mandiri
  6. Maybank Indonesia Syaria
  7. Bank Syariah Muamalat Indonesia
  8. Bank Syariah Bukopin
  9. Bank Victoria Syariah
  10. Bank Syariah BNI
  11. Bank Syariah BRI

Proses perpindahan cicilan memang menawarkan keuntungan dalam mendapatkan cicilan yang lebih kecil. Meskipun demikian, proses take over terkadang harus melalui serangkaian prosedur yang tidak mudah. Melakukan cicilan KPR tanpa melakukan take over KPR tentunya lebih disarankan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda mencermati terlebih dahulu bank mana yang memberikan keuntungan dalam melakukan KPR. Dengan demikian, Anda tidak perlu melakukan take over di kemudian hari.

One thought on “Cara Memiliki Hunian Murah dengan Take Over KPR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *