Di tengah modernisasi kawasan Cilebut, berdiri sebuah bangunan yang tampak asing namun membawa kisah besar: Tugu Lonceng Cilebut. Struktur usang dengan pilar neoklasik ini bukan sekadar peninggalan biasa, melainkan saksi dari sistem tanah partikelir, kerja paksa, hingga kehidupan para budak pada abad ke-19. Cimanggu Bogor menghadirkan sudut pandang baru mengenai peninggalan kolonial tersembunyi di Jawa Barat yang jarang tersorot tetapi bernilai historis luar biasa.
Daftar Isi
- Tugu Lonceng Cilebut Diam, Sejarah yang Tertahan
- Arsitektur yang Bercerita Tanpa Kata
- Sejarah Land Cilebut: Dari Feodalisme hingga Kerja Paksa
- Para Pemilik Tanah: Dari Vincent Hingga Yanus Big
- Fungsi Asli Tugu Lonceng: Lonceng Budak (Slaven Bell)
- Masa Kemunduran Tanah Partikelir
- Tugu yang Terasing di Tengah Kota yang Terlalu Cepat Tumbuh
Tugu Lonceng Cilebut Diam, Sejarah yang Tertahan
Pagi hari di jalan menuju Bogor, suasana Cilebut memperlihatkan wajah kota yang tumbuh terlalu cepat. Ruko baru, perumahan modern, dan kesibukan kendaraan menutupi jejak-jejak masa lalu. Namun tepat di samping gerbang perumahan baru, terdapat bangunan tua berkubang debu sejarah—sebuah artefak yang tampak canggung berdiri di tengah perubahan urban. Di sinilah tugu bersejarah di pinggir Stasiun Cilebut mempertahankan sisa kejayaannya.
Arsitektur yang Bercerita Tanpa Kata
Jika mitos dan cerita mistis disingkirkan, tugu ini sesungguhnya berbicara melalui bentuknya. Empat pilar silinder bergaya neoklasik, fondasi berornamen, serta konstruksi tinggi yang pernah menopang lonceng besar menunjukkan bahwa pemiliknya adalah tokoh berpengaruh. Arsitektur kolonial seperti ini hanya dimiliki para tuan tanah kaya dengan selera seni tinggi di Hindia Belanda. Kini, salah satu pilar telah runtuh, atapnya hilang, dan seluruh struktur ditopang rangka besi.
Sejarah Land Cilebut: Dari Feodalisme hingga Kerja Paksa
Untuk memahami tugu ini, kita harus memutar waktu ke abad ke-19 ketika Cilebut masih berupa tanah partikelir bernama Land Cilebut. Pada masa itu, wilayah ini dikuasai tuan tanah kolonial. Penduduk pribumi bekerja sebagai pekerja terikat, jauh sebelum lahirnya undang-undang agraria modern. Tugu Lonceng Cilebut menjadi bagian dari pusat kendali tanah partikelir kolonial, mirip dengan Landhuis Dramaga yang kini menjadi museum.
Para Pemilik Tanah: Dari Vincent Hingga Yanus Big
Arsip sejarah menyebut nama William Vincent H. van Riemsdijk Jr., seorang tuan tanah eksentrik yang memiliki orkestra pribadi beranggotakan budak terlatih. Ia kerap menggelar pesta mewah di tanah miliknya.
Kemudian tanah ini berpindah ke tangan tokoh terkenal, Yanus Theodorus Big, seniman kaya raya yang pernah ikut ekspedisi botani bersama Prof. Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor.
Saudaranya, Adrian Yohannes Big, adalah sosok yang melukis wajah Pangeran Diponegoro di Stadhuis Batavia. Keluarga Big inilah yang meninggalkan sebuah lukisan rumah besar dengan pilar megah dan sebuah tugu berkubah yang menampakkan lonceng besar di bawahnya. Lukisan itu menjadi satu-satunya gambaran utuh Landhuis Cilebut di abad ke-19.
Fungsi Asli Tugu Lonceng: Lonceng Budak (Slaven Bell)
Tugu ini bukan bagian dari tempat ibadah ataupun sekolah. Lonceng yang pernah menggantung di dalamnya digunakan untuk memberi tanda kepada para pekerja dan budak:
- Waktu mulai bekerja,
- Waktu istirahat,
- Hingga waktu mengakhiri hari kerja.
Dentang lonceng tersebut menggema ke seluruh perkebunan, menjadi alat pengatur ritme kerja sebelum perbudakan dihapus tahun 1860. Karena itu, tugu ini juga dikenal sebagai Slaven Bell—lonceng budak yang mengatur kehidupan mereka setiap hari.
Masa Kemunduran Tanah Partikelir
Setelah masa kejayaan Yanus Big, Land Cilebut perlahan mengalami kemunduran. Rumah besar akhirnya dibongkar sekitar tahun 1925. Namun, tugu loncengnya entah mengapa dibiarkan berdiri. Mungkin karena dianggap tidak mengganggu, atau masih digunakan sebagai penanda waktu. Sejak itu, tugu ini menjadi saksi tunggal dari lanskap yang telah berubah drastis.
Tugu yang Terasing di Tengah Kota yang Terlalu Cepat Tumbuh
Kini, bangunan tugu peninggalan kolonial di Celebut itu terlihat seperti pengembara tersesat. Dikelilingi perumahan mewah dan jalan modern, ia berdiri sendirian tanpa rumah induk, tanpa penghuni, tanpa narasi resmi yang melindungi maknanya. Banyak orang melintas tanpa menyadari betapa pentingnya artefak ini bagi sejarah sosial wilayah Bogor.
Seiring waktu, kerusakan struktural semakin terlihat. Pilar runtuh, ornamen patah, dan rangka besi terus menahan sisa sejarah agar tidak tumbang. Pertanyaannya: sampai kapan Tugu Lonceng Cilebut mampu bertahan? Apakah ia akan dipugar, dipindahkan, atau dibiarkan hilang?
Di balik beton dan aspal kota modern, tugu ini masih menyimpan cerita tentang kerja paksa, kekuasaan tuan tanah, dan perjalanan panjang sebuah tanah kolonial. Empat pilar yang tersisa berdiri seperti penjaga terakhir dari masa lalu yang hampir dilupakan. Selama ia masih bertahan, Tugu Lonceng Cilebut mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu berada di museum—kadang ia berada diam di sudut jalan, menunggu untuk dipahami kembali.






