Sulit membayangkan bahwa kota Bogor yang hari ini dipenuhi macet, pusat kuliner, dan padatnya permukiman adalah sebuah kawasan yang dahulu merupakan pusat kekuasaan Sunda. Namun demikian, dari berbagai catatan kuno, prasasti, hingga ekspedisi VOC, kita mengetahui bahwa Bogor modern berdiri di atas bekas ibu kota Kerajaan Pajajaran, sebuah kerajaan yang pernah mencapai masa keemasan di bawah Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Daftar Isi
- Bogor Bernama Buitenzorg, Rumah Peristirahatan Para Gubernur Jenderal
- Pendahulu Pajajaran: Kerajaan Sunda sebagai Nama Asli
- Definisi Pakuan Pajajaran Menurut Purbatjaraka
- Masa Keemasan Pakuan Pajajaran dan Pemerintahan Sri Baduga Maharaja
- Perjalanan Menyusuri Jejak Pajajaran
- Catatan Tome Pires: Dayo atau Dayeuh sebagai Ibu Kota Sunda
- Kemunduran Pajajaran: Dari Kerja Sama yang Gagal hingga Serangan Banten
- Setelah Keraton Dibakar: Pakuan Menjadi Hutan Belantara
- Situs Makam Keramat Mbah Dalem: Punden Berundak Praislam
- Situs Purwakalih: Tiga Arca dan Dua Menhir Misterius
- Prasasti Batu Tulis: Memoar Sri Baduga Maharaja
- Gang Amil: Jejak Jalan Batu Masuk Kota Pakuan
- Tantangan Pelestarian di Kota Modern
- Bogor Sebagai Simbol Ingatan
Bogor Bernama Buitenzorg, Rumah Peristirahatan Para Gubernur Jenderal
Sebelum menyelami masa kerajaan, kita menengok ke masa kolonial ketika Bogor masih bernama Buitenzorg, yang berarti bebas dari kesulitan atau tanpa kecemasan. Nama itu diberikan pada 1744 oleh Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff, seorang pejabat yang jatuh cinta pada ketenangan sebuah kampung kecil di selatan Batavia. Di wilayah itu dibangun rumah peristirahatan, lalu berkembang menjadi sebuah istana kolonial megah yang kini dikenal sebagai Istana Bogor.
Nama Buitenzorg menggambarkan suasana yang menurut Van Imhoff begitu menenangkan—sesuatu yang kontras dengan Batavia yang padat dan rawan wabah. Namun jauh sebelum sentuhan kolonial hadir, wilayah ini memiliki masa yang jauh lebih tua dan penuh kejayaan.
Pendahulu Pajajaran: Kerajaan Sunda sebagai Nama Asli
Dalam berbagai sastra lisan, orang awam sering menyebut kerajaan ini sebagai Kerajaan Pajajaran, tetapi para sejarawan mengingatkan bahwa naskah kuno, prasasti, serta catatan perjalanan Portugis justru menyebutnya sebagai Kerajaan Sunda.
Menurut sejarawan Saleh Danasasmita, nama Pajajaran awalnya bukan nama kerajaan, tetapi nama ibu kota Pakuan Pajajaran. Dalam tradisi Jawa dan Sunda kuno, nama ibu kota sering dijadikan nama kerajaan. Karena itu, dalam literatur rakyat muncul istilah Kerajaan Pajajaran, meski dokumen kontemporer abad ke-10 hingga ke-16 lebih konsisten menggunakan istilah Kerajaan Sunda.
Definisi Pakuan Pajajaran Menurut Purbatjaraka
Purbatjaraka, ahli sastra Jawa kuno, memberi interpretasi bahwa kata Pakuan berasal dari bahasa Kawi, yaitu Pakan, yang merujuk pada tempat tinggal atau istana. Melalui kebiasaan artikulasi Sunda, Pakan kemudian menjadi Pakuan.
Interpretasi ini sejalan dengan naskah Sunda kuno Carita Parahyangan, yang memuat narasi mengenai raja-raja Sunda, termasuk Sri Baduga Maharaja. Istana pusat kerajaan disebut sebagai Pancaprasada, sebuah istilah yang menggambarkan tempat tinggal raja yang dilengkapi bangunan sakral.
Masa Keemasan Pakuan Pajajaran dan Pemerintahan Sri Baduga Maharaja
Ketika Sri Baduga Maharaja naik tahta tahun 1482, ia menyatukan dua pusat kekuasaan: Galuh dan Sunda. Inilah titik yang kemudian dipahami sebagai masa keemasan Kerajaan Sunda Pajajaran. Ia membangun berbagai fasilitas publik, memperkuat pertahanan, serta mengembangkan pertanian dan jalur perdagangan lada.
Banyak kisah lisan masyarakat Sunda menarasikan masa kekuasaan Sri Baduga sebagai zaman ketika masyarakat hidup makmur dan teratur. Figur Prabu Siliwangi, yang merupakan gelar yang melekat pada Sri Baduga, menjadi simbol kebijaksanaan serta kekuatan yang dikenang hingga hari ini.
Perjalanan Menyusuri Jejak Pajajaran
Suatu pagi yang cerah di Kota Bogor, sekelompok peserta tur sejarah mengikuti rangkaian Bogor Historical Walking Tour. Mereka—bersama pemandu yang memegang naskah rujukan sejarah—menjelajahi berbagai titik yang dipercaya sebagai sisa-sisa kerajaan.
Di antara rombongan itu, terdapat penjelasan mengenai bagaimana berbagai sumber kolonial dan naskah lokal saling melengkapi dalam mengungkap lokasi bekas ibu kota Pakuan Pajajaran. Para peserta bersiap mencari situs-situs yang berada di sekitar Sungai Cipakancilan, lembah Cidepit, dan kawasan Batu Tulis—area yang disebut berkali-kali dalam sumber Portugis dan Sunda kuno.
Catatan Tome Pires: Dayo atau Dayeuh sebagai Ibu Kota Sunda
Tome Pires, penjelajah Portugis abad ke-16, menulis dalam Suma Oriental bahwa ibu kota kerajaan Sunda bernama Dayo—dari kata Sunda Dayeuh, yang berarti ibu kota—yang berlokasi di daerah pegunungan dan berjarak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa (kini Jakarta).
Kemunduran Pajajaran: Dari Kerja Sama yang Gagal hingga Serangan Banten
Setelah wafatnya Prabu Siliwangi, Pajajaran memasuki masa sulit. Penguasa Demak dan Cirebon memperluas pengaruh, sementara penerusnya, Prabu Surawisesa, mencoba membuat perjanjian dengan Portugis guna mendirikan benteng di Sunda Kalapa sebagai pertahanan.
Namun Portugis tidak menepati janji. Akibatnya, Sunda Kalapa jatuh ke tangan Cirebon dan Banten. Ekspansi Banten yang dipimpin Maulana Yusuf pada 1579 menjadi pukulan terakhir. Batu Palangka Sriman Sriwacana, batu tempat penobatan raja Sunda, dibawa ke Banten. Dengan hilangnya batu tersebut, berakhir pula legitimasi penobatan raja Pajajaran.
Setelah Keraton Dibakar: Pakuan Menjadi Hutan Belantara
Ketika keraton pusat dihancurkan, wilayah Pakuan ditinggalkan dan lambat laun ditelan oleh alam. Vegetasi tropis tumbuh liar, bangunan runtuh, dan kawasan itu menjadi hutan selama hampir satu abad.
Di masa ini, para penduduk sekitar mungkin tidak lagi memahami bahwa mereka hidup di dekat sisa-sisa kerajaan besar. Namun VOC pada abad ke-17 mulai menyadari keberadaannya melalui ekspedisi C.P. Olivier (1687), Adolf Winkler (1690), dan Abraham van Riebeeck (1703).
Situs Makam Keramat Mbah Dalem: Punden Berundak Praislam
Rombongan tur kemudian tiba di Situs Mbah Dalem di kawasan Batu Tulis. Di halaman depan tampak makam-makam yang teduh di bawah pohon besar. Namun yang menjadi fokus bukanlah cungkup hijau itu, melainkan halaman bawah yang lebih rendah posisinya.
Di sana terdapat batu-batu tersusun seperti dinding terasering. Para ahli berpendapat bahwa kawasan ini mungkin merupakan punden berundak masa praislam, sekaligus lokasi penting terkait kawasan inti Pakuan. Beberapa catatan menyebut tempat ini sebagai lokasi ngahiang, yakni tempat dimakamkannya tokoh kerajaan.
Situs Purwakalih: Tiga Arca dan Dua Menhir Misterius
Tidak jauh dari Batu Tulis, tersembunyi di bawah pepohonan, terdapat Situs Purwakalih—atau Purwagalih. Situs ini memiliki tiga arca bernama Purwagali, Gelap Nyawang, dan Kidang Penanjung, yang disebut dalam Babat Pajajaran.
Masyarakat Sunda masa itu lebih mengutamakan makna simbolik ketimbang bentuk realistis. Karena itu, ketiga arca ini tidak menyerupai bentuk manusia seperti arca Hindu-Buddha dari Jawa Tengah. Dua menhir di samping arca juga menjadi penanda ritual kuno terkait permukiman bangsawan masa lalu.
Situs ini sempat tertimbun sebelum ditemukan kembali pada pelebaran jalan 1991.
Prasasti Batu Tulis: Memoar Sri Baduga Maharaja
Salah satu peninggalan paling penting Kerajaan Sunda adalah Prasasti Batu Tulis. Prasasti ini ditulis oleh Prabu Surawisesa tahun 1533 M untuk mengenang ayahnya, Sri Baduga Maharaja.
Prasasti berbahan batu andesit berbentuk kerucut itu memuat daftar pembangunan besar yang dilakukan Sri Baduga, termasuk saluran air, kawasan suci, hingga bangunan istana.
Di kompleks yang sama terdapat batu tapak (dengan jejak kaki), batu tempat sajian, batu sandaran tahta, dan lima tonggak batu yang disebut punakawan. Sayangnya batu terpenting, Palangka Sriman Sriwacana, telah diambil oleh Banten.
Gang Amil: Jejak Jalan Batu Masuk Kota Pakuan
Rombongan perjalanan sejarah kemudian menuju Gang Amil, gang kecil yang tampak biasa saja. Namun dalam catatan Adolf Winkler, ia menemukan jalan batu yang rapi menuju Paseban, tempat menghadap raja.
Di lokasi ini pernah ditemukan pasangan batu dudukan (dholid), tempat duduk penjaga kerajaan. Batu-batu yang kini masuk area rumah warga tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kawasan ini dulunya adalah gerbang kota Pakuan.
Tantangan Pelestarian di Kota Modern
Ironisnya, sebagian besar situs bersejarah ini tidak menonjol. Banyak yang tertutup pagar, berdampingan dengan rumah warga, atau hampir tidak terlihat keberadaannya dari jalan raya. Bogor tumbuh terlalu cepat, dan banyak lapisan sejarah yang ikut tertimbun.
Di sinilah pentingnya edukasi publik dan penelitian lanjutan. Pelestarian bukan hanya tugas lembaga resmi, tetapi juga kesadaran kolektif warga yang hidup di atas tanah bersejarah.
Bogor Sebagai Simbol Ingatan
Kota Bogor menyimpan dinamika menarik. Dari citra kolonial sebagai Buitenzorg, dari kejayaan Pakuan, dari jatuhnya Pajajaran, hingga pencarian identitas masa kini—setiap lapis waktu meninggalkan jejak.
Setiap batu, arca, atau punden berundak yang ditemukan kembali adalah bagian dari cerita panjang tentang bagaimana suatu kerajaan besar pernah mengelola wilayah yang strategis, subur, dan kaya ragam budaya.
Hampir lima abad telah berlalu sejak Pakuan ditinggalkan. Namun narasi mengenai Sri Baduga Maharaja, Prabu Surawisesa, peperangan Sunda–Banten, dan masa keemasan Kota Pajajaran tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Jawa Barat.
Jika generasi mendatang memahami nilai sejarahnya, maka peninggalan yang tersisa—betapapun kecil—akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
Kota Bogor, dengan segala hiruk pikuknya, sesungguhnya berdiri di atas kota lain yang jauh lebih tua, kota yang pernah dipimpin raja besar, dan kota yang kini hanya tersisa dalam bentuk batu, prasasti, dan cerita.






