Sejarah Pulo Geulis Bogor : Harmoni Multikultural di Tengah Sungai Ciliwung

Sejarah19 Views

Pulo Geulis bukan sekadar daratan kecil di tengah Sungai Ciliwung. Ia adalah tempat yang mengajarkan arti hidup berdampingan dalam perbedaan. Meski kini menjadi kawasan padat penduduk, cerita-cerita lama tentang masa Pajajaran, akulturasi budaya Tionghoa–Sunda, hingga berdirinya kelenteng Pancoran Bogor masih membekas di setiap sudutnya. Pulau ini menyimpan pelajaran bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dijalani sesuai porsinya.

Bagaimana Ada Pulau di Kota Bogor?

Ketika seseorang mendengar kata pulau, biasanya bayangan pantai berpasir putih dan pohon kelapa muncul lebih dulu. Namun Bogor menghadirkan kejutan: sebuah pulau di tengah kota, tidak jauh dari Kebun Raya, dan berlokasi di aliran Sungai Ciliwung. Pulo Geulis Bogor tercipta karena arus sungai yang membelah dan kemudian menyatu kembali, membentuk daratan menyerupai pulau alami.

Nama geulis berarti cantik dalam bahasa Sunda—petunjuk bahwa dahulu tempat ini memiliki bentang alam yang elok dan penuh pepohonan.

Perjalanan Menuju Pulo Geulis dari Lawang Suryakencana

Perjalanan dimulai dari Jalan Otista, melewati Plaza Bogor yang sedang ditata ulang oleh pemerintah kota. Dari sana, langkah diarahkan menuju Lawang Suryakencana, sebuah gerbang merah besar yang menjadi penanda kawasan Pecinan. Gerbang ini unik karena memadukan simbol budaya Tionghoa dengan identitas Sunda—di puncaknya terpajang sebuah Kujang, dan di sisi kiri kanannya berdiri patung macan yang melambangkan Kerajaan Pajajaran.

kampung pulo geulis bogor
kampung wisata pulo geulis bogor

Pecinan sebagai Jejak Kebijakan Kolonial

Keberadaan kawasan Tionghoa di Surya Kencana tidak terjadi secara kebetulan. Pada masa kolonial Hindia Belanda diterapkan kebijakan Wijkenstelsel, yaitu zonasi berdasarkan etnis. HELAAN—nama lama Jalan Suryakencana—dipilih sebagai pusat komunitas pedagang Tionghoa karena lokasinya strategis.

Dari sinilah terbentuk kawasan perdagangan yang padat: pasar, toko-toko, pedagang kaki lima, dan interaksi budaya yang kaya.

Dari Hiruk-Pikuk Pasar Baru ke Akses Pulo Geulis

Lewat Pasar Baru Bogor, pasar tertua di kota ini, perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Roda, sebelum akhirnya mencapai mulut Gang Bangka yang menunjukkan arah ke Lebak Pasar dan Pulo Geulis. Jalur ini menurun dan perlahan mengantar pengunjung memasuki lembah perkampungan yang sangat padat.

Cahaya keemasan matahari pagi yang muncul di antara atap rumah-rumah membuat suasana terasa hangat meski jalanan tampak sesak.

Jembatan Warna-Warni Menuju Pulo Geulis

Gerbang menuju Pulo Geulis berupa jembatan panjang berwarna-warni yang berdiri di atas aliran Sungai Ciliwung. Jembatan ini tidak terlalu lebar, namun cukup kuat untuk dilintasi warga setiap hari. Begitu menyeberang, pemandangan perkampungan padat langsung menyambut. Pulau seluas 3,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 2.600 jiwa dengan lebih dari 560 rumah, sebagian berdiri di tebing sungai.

Kelenteng Pancoran Bogor, Ikon Pulo Geulis

Aroma dupa tercium ketika melangkah lebih dalam. Di sinilah berdiri sebuah kelenteng tua bernama Kelenteng Panko / Vihara Brahma—ikon Pulo Geulis. Meski bangunannya kini bukan yang asli, keberadaannya ditetapkan sebagai cagar budaya karena menyimpan batu-batu monolit dan petilasan leluhur yang konon berasal dari era Kerajaan Pajajaran.

vihara pulo geulis babakan pasar
kampung etnik pulo geulis

Menurut tradisi lisan, kelenteng ini dibangun oleh seorang tabib dari Tiongkok sebagai ungkapan terima kasih setelah menyembuhkan putri raja Pajajaran.

Pulo Geulis pada Masa Pajajaran

Dalam cerita rakyat Sunda, kawasan ini dulunya menjadi tempat bertapa dan beribadah sebelum Kerajaan Pajajaran berdiri. Saat Pakuan Pajajaran berjaya, daratan ini menjadi lokasi bermain anak-anak emban dan abdi dalem kerajaan. Kala itu, wilayah ini dikenal dengan nama Parakan Baranangsiang.

Parakan berarti daerah landai di tepi sungai dengan banyak batu terlihat. Baranangsiang mengacu pada kilauan cahaya pagi—petunjuk kecantikan daerah tersebut di masa lampau.

Runtuhnya Pajajaran dan Hilangnya Pusat Kota

Ketika kerajaan Pajajaran diserang oleh Banten dan Cirebon pada awal abad ke-16, pusat kota Pakuan hilang dari catatan sejarah. Wilayahnya berubah menjadi belantara. Pulo Geulis pun ikut menghilang dari dokumen resmi hingga kemudian dieksplorasi oleh VOC.

Ekspedisi Cpio (1687) dan Adolf Winkler (1690) gagal memberikan peta jelas. Baru pada tahun 1730, ekspedisi Abraham Van Riebeeck menemukan kembali Pulo Geulis beserta kelenteng dan artefaknya, sekaligus mencatat keberadaan masyarakat Tionghoa dan Sunda yang hidup berdampingan.

Dari Alam Cantik Menjadi Permukiman Padat

Setelah Belanda membangun jembatan pada 1923, akses ke Pulo Geulis terbuka lebar. Arus penduduk semakin banyak dan daratan kecil ini secara perlahan berubah menjadi permukiman padat seperti saat ini.

Meski mural warna-warni yang dulu menghiasi dinding rumah kini mulai memudar, identitas budaya Pulo Geulis tetap terjaga.

Harmoni Budaya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Masyarakat Tionghoa dan Sunda hidup berdampingan di pulau kecil ini. Aktivitas pagi mereka—anak sekolah berpapasan dengan ibu-ibu yang belanja, pedagang membuka lapak, serta warga yang menyapa satu sama lain—menunjukkan harmoni yang tidak dibentuk oleh program pemerintah, melainkan tumbuh alami dari generasi ke generasi.

Pelajaran dari Sebuah Pulau di Tengah Kota

Pulo Geulis bukan hanya lokasi wisata sejarah, tetapi ruang pembelajaran sosial: perbedaan tidak harus dicampurkan, cukup dikelola dan dirawat. Dengan demikian, manisnya kebersamaan dapat tumbuh tanpa memaksa siapa pun meninggalkan identitas asalnya.

Meskipun kelenteng Pancoran tidak sempat dikunjungi dalam perjalanan ini, Pulo Geulis tetap menawarkan esensi penting: bahwa harmoni itu nyata dan dapat tumbuh bahkan di tengah permukiman kecil di atas sungai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *